Di Balik Lembar Berita Kompas: Menguak Rahasia Dapur Redaksi dan Percetakan

Pernah ga membayangkan, bagaimana ribuan kata dan gambar yang tersusun rapi di lembar koran favorit kamu bisa sampai ke tanganmu setiap pagi? Di balik setiap berita, ada sebuah orkestra kompleks yang melibatkan pemikiran tajam, kerja keras tanpa henti, dan teknologi canggih. Kali ini, kami mahasiswa Program Studi Jurnalistik UIN Syarif Hiayatullah Jakarta berkesempatan menembus dinding tebal itu, masuk lebih dalam ke jantung produksi berita terbesar di Indonesia, yaitu dapur redaksi dan megahnya percetakan Kompas.

Sejarah Media Kompas

Sebelum kita menelusuri setiap sudutnya, ada baiknya kita menengok ke belakang sejenak. Kompas pertama kali terbit pada 28 Juni 1965, di tengah gejolak politik yang melanda Indonesia. Didirikan oleh P.K. Ojong dan Jakob Oetama, koran ini awalnya hadir dengan visi untuk menjadi media yang independen dan berimbang, menyajikan informasi yang mencerahkan di tengah berbagai polarisasi. Lebih dari setengah abad berlalu, Kompas tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi salah satu pilar utama jurnalisme di Indonesia.

Menelusuri Dapur Media Kompas

Kunjungan kami dimulai di lantai redaksi, tempat ide-ide mentah diubah menjadi narasi yang berbobot. Suasana di sini begitu hidup, namun tetap fokus. Pemandangan uniknya adalah ritme kerja yang terbalik dengan kebanyakan orang. Saat sebagian besar karyawan mulai beristirahat pulang menuju rumah masing-masinh, denyut nadi di redaksi Kompas justru semakin kencang. Para jurnalis, editor, dan fotografer sibuk di depan layar komputer mereka, berdiskusi, menulis, atau mengedit. Meja-meja penuh dengan tumpukan koran, buku, foto bersama orang terkasih, atau sekedar figuran favorit untuk membangun semangat yang tak pernah padam.

Setelah berita selesai ditulis dan disunting dengan teliti, naskah akan melewati beberapa tahapan verifikasi faktual dan penyelarasan gaya. Proses ini memastikan bahwa setiap kata yang terbit telah melalui standar kualitas jurnalistik yang ketat. Tim desain grafis kemudian mengambil alih, merancang tata letak yang menarik dan memastikan setiap foto atau ilustrasi mendukung narasi berita.

Seiring berjalannya waktu, selain menerbitkan koran cetak dengan 16 halaman per edisi. Kini media kompas juga menerbitkan e-paper, yaitu koran digital di website Kompas.id yang bisa diakses dengan berlangganan.

Suara Mesin Cetak Transformasi Digital Ke Fisik

Dari lantai redaksi, kami diajak menyebrangi ke gedung lainnya menuju area yang benar-benar berbeda termpat dimana percetakan koran Kompas berproduksi. Begitu pintu terbuka, suara gemuruh mesin raksasa langsung menyambut kami. Aroma tinta yang khas memenuhi udara, seolah menjadi parfum bagi para pekerja di sana. Ntah sudah takjub berapa kali kami dibuatnya.

Di sinilah keajaiban sesungguhnya terjadi. Gulungan kertas raksasa yang tingginya melebihi manusia dewasa, secara otomatis ditarik masuk ke dalam mesin cetak. Dengan kecepatan yang luar biasa, ribuan lembar koran dicetak, dipotong, dilipat, dan ditumpuk secara bersamaan. Memadukan teknologi dan tenga manusia, memastikan tidak ada satu pun lembar yang terlewat atau cacat.

“Setiap bagian harus presisi agar hasil cetakan sempurna dan bisa sampai di tangan pembaca tepat waktu.”

Melihat langsung proses ini, dari ide yang lahir di meja redaksi hingga menjadi lembaran koran yang siap didistribusikan, adalah pengalaman yang luar biasa dan tak terlupakan. Sebagai mahasiswa jurnalistik, pemandangan ini benar-benar membuat kami terpukau. Bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang dedikasi ratusan orang yang bekerja di balik layar, memastikan bahwa berita tetap menjadi pilar penting dalam masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *